Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah
yang sangat potensial akan sumberdaya perikanan. Luasnya hamparan perairan
tentu saja mengandung berbagai komoditas perikanan yang melimpah dan sangat
banyak jenisnya. Tingkat pengembangan sektor perikanan selama ini lebih
diprioritaskan kepada bagaimana mengelola dan memanfaatkan sumberdaya tersebut,
sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif, lestari dan berkesinambungan.
Mengingat besarnya sumberdaya yang ada tentu saja akan berpengaruh pada daya
serap masyarakat dalam mengkonsumsi ikan, apalagi pada musim-musim tertentu dimana terjadi panen
raya atau pun jumlah hasil tangkapan melimpah.
Selama ini usaha pengolahan ikan lebih
mengarah kepada pengolahan secara tradisional, padahal banyak sekali
kegiatan-kagiatan pengolahan lainnya yang dapat dilakukan tanpa harus berpaku
pada satu jenis produk saja. Oleh karena itu sudah sepatutnya dilakukan
perilaku, terutama pola pikir masyarakat ke arah yang lebih maju, sehingga
masyarakat mampu mengembangkan bakatnya secara kreatif dan inovatif.
Dengan
demikian akan mampu menghasilkan produk yang beraneka ragam dengan bentuk dan
cita rasa yang beragam pula.Sebagai usaha untuk meminimalisasi persoalan
tersebut, maka perlu dilakukan suatu terobosan dalam rangka pemanfaatan
sumberdaya perikanan untuk lebih diarahkan kepada usaha diversifikasi produk
yang mempunyai daya saing di tingkat pasar. Salah satu produk diversifikasi
olahan hasil perikanan tersebut adalah dendeng ikan. Melalui usaha ini
diharapkan akan mampu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup pengolah hasil
perikanan itu sendiri.
Usaha pengolahan dendeng ikan ini
didirikan pada bulan Maret 2009 yang diberi nama NARASA setelah mendapatkan bimbingan dan pelatihan
dari Pembimbing. Materi pelatihan berupa
keterampilan dalam proses pengolahan produk dan menajemen usaha yang akan
dijalankan. Usaha pengolahan dendeng ikan ini melibatkan 6 (Enam) orang tenaga
kerja dan sudah pernah mendapatkan bentuk pelatihan yang sama dengan
mengandalkan modal yang terbatas, sehingga pola usaha pengolahan dendeng ikan
masih belum bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun belum lama
memproduksi dendeng ikan, tetapi dari hasil penjualan sudah dapat melengkapi
beberapa alat produksi utama, seperti pisau steinless, para-para, blender dan
timbangan.
Dilihat dari jumlah produksi yang
sudah pernah dihasilkan pada periode pertama, mulai dari 60 Kg bahan baku bisa
ditingkatkan menjadi 300 Kg. Meningkatnya jumlah produksi tersebut tidak
terlepas dari adanya peningkatan permintaan pasar, tidak hanya di kawasan kota
Lhokseumawe saja, tapi juga sudah meluas sampai Kabupaten Aceh Utara.