Rabu, 10 September 2014

Profil Kelompok Usaha Dendeng Ikan

Provinsi Aceh merupakan salah satu daerah yang sangat potensial akan sumberdaya perikanan. Luasnya hamparan perairan tentu saja mengandung berbagai komoditas perikanan yang melimpah dan sangat banyak jenisnya. Tingkat pengembangan sektor perikanan selama ini lebih diprioritaskan kepada bagaimana mengelola dan memanfaatkan sumberdaya tersebut, sehingga dapat dimanfaatkan secara efektif, lestari dan berkesinambungan. Mengingat besarnya sumberdaya yang ada tentu saja akan berpengaruh pada daya serap masyarakat dalam mengkonsumsi ikan, apalagi pada  musim-musim tertentu dimana terjadi panen raya atau pun jumlah hasil tangkapan melimpah.

Selama ini usaha pengolahan ikan lebih mengarah kepada pengolahan secara tradisional, padahal banyak sekali kegiatan-kagiatan pengolahan lainnya yang dapat dilakukan tanpa harus berpaku pada satu jenis produk saja. Oleh karena itu sudah sepatutnya dilakukan perilaku, terutama pola pikir masyarakat ke arah yang lebih maju, sehingga masyarakat mampu mengembangkan bakatnya secara kreatif dan inovatif. 

Dengan demikian akan mampu menghasilkan produk yang beraneka ragam dengan bentuk dan cita rasa yang beragam pula.Sebagai usaha untuk meminimalisasi persoalan tersebut, maka perlu dilakukan suatu terobosan dalam rangka pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk lebih diarahkan kepada usaha diversifikasi produk yang mempunyai daya saing di tingkat pasar. Salah satu produk diversifikasi olahan hasil perikanan tersebut adalah dendeng ikan. Melalui usaha ini diharapkan akan mampu meningkatkan pendapatan dan taraf hidup pengolah hasil perikanan itu sendiri.

Usaha pengolahan dendeng ikan ini didirikan pada bulan Maret 2009 yang diberi nama NARASA  setelah mendapatkan bimbingan dan pelatihan dari Pembimbing.  Materi pelatihan berupa keterampilan dalam proses pengolahan produk dan menajemen usaha yang akan dijalankan. Usaha pengolahan dendeng ikan ini melibatkan 6 (Enam) orang tenaga kerja dan sudah pernah mendapatkan bentuk pelatihan yang sama dengan mengandalkan modal yang terbatas, sehingga pola usaha pengolahan dendeng ikan masih belum bisa berjalan sesuai dengan yang diharapkan. Walaupun belum lama memproduksi dendeng ikan, tetapi dari hasil penjualan sudah dapat melengkapi beberapa alat produksi utama, seperti pisau steinless, para-para, blender dan timbangan.


Dilihat dari jumlah produksi yang sudah pernah dihasilkan pada periode pertama, mulai dari 60 Kg bahan baku bisa ditingkatkan menjadi 300 Kg. Meningkatnya jumlah produksi tersebut tidak terlepas dari adanya peningkatan permintaan pasar, tidak hanya di kawasan kota Lhokseumawe saja, tapi juga sudah meluas sampai Kabupaten Aceh Utara.